Andai Tuhan Bisa Bicara
Bicara versi Tuhan (atau ‘berfirman’) memang berbeda dengan bicara versi manusia. Tapi andai Tuhan bicara seperti manusia, dengan suara, apakah manusia akan mengikuti?
–o0o–
Pono sedang trekking di lereng-lereng gunung yang indah. Tapi ia terpeleset, jatuh ke jurang. Agak beruntung, akhirnya ia sempat memejang sulur pohon. Seperti di film kartun, sulurnya sedikit demi sedikit mulai terputus menahan berat si Pono. Maka Pono berteriak:
“Hei! Ada orang di atas sana? Tolong aku!”
Sepi … Tapi tiba-tiba ada suara dari angkasa.
“Percayalah padaku. Lepaskan tanganmu. Kau akan selamat.”
Pono takjub. Terpukau. Tapi tangannya tak kunjung dilepaskan dari sulur.
Lalu ia berteriak lagi:
“Hei! Ada orang lain di atas sana? Tolong aku!”
–o0o–
Empat rabbi sedang berdebat tentang ajaran Yahudi. Aku ‘gak paham ajaran Yahudi, jadi aku skip bagian ini. Tapi posisi debatnya 3 orang pro, dan 1 orang kontra. Merasa kalah, si satu rabbi ini berdoa sambil berteriak:
“Tuhan! Tunjukkan pada mereka bahwa aku benar!”
Langit yang sedang cerah mendadak gelap. Awan hitam menutupi matahari.
Rabbi yang lain tak peduli: “Aku punya penjelasan ilmiah bagaimana awan hitam bisa mendadak terbentuk di hari yang cerah.”
Rabbi pertama berteriak lagi: “Tuhan! Yakinkan mereka bahwa aku benar!”
Maka petir menyambar-nyambar mendekati tempat mereka.
Rabbi lain masih tak peduli. “Tersambar petir pun, kami tetap yakin bahwa kami benar.”
Maka si rabbi pertama berteriak lagi: “Tuhan! Berikan tanda yang memastikan bahwa aku benar!”
Petir berhenti. Dan sebagai gantinya, terdengar suara yang keras: “DIAAAA BEENAAAAAR!”
Lalu senyap.
Senyap dalam kekagetan.
Dan satu rabbi pro memecah kesunyian. “Baiklah. Tuhan di pihakmu. Tapi dengan posisi 3:2, kami masih mayoritas.”
–o0o–
Manusia lebih menarik dari itu loh

The article has
no responses yet